Bangkitnya Sales Indonesia

KOPDAR KOMISI JAWA TENGAH “SALES CHARACTER BUILDING” Menjadi sales yang dicintai pembeli
October 19, 2015
SERUM 1: MOTIVASI : SRIKANDI CANTIK dari CHELSEA
December 8, 2015

Bangkitnya Sales Indonesia

Satu waktu di tahun 2010 ketika membawakan sales training di kota Medan pada saat rehat saya dihampiri oleh salah seorang peserta training. Dan dia berkata, “Pak Dedy, Mertua saya pernah bertanya, kamu hebat sekali bisa punya mobil dan rumah baru, memangnya kamu kerja apa?”

“Menurut bapak, kira-kira apa jawaban yang saya berikan kepada mertua saya? Mendapat pertanyaan ini saya jadi bingung juga untuk menjawabnya.

Lalu ia mengatakan bahwa “saya bilang kepada mertua bahwa saya seorang Kontraktor,pak”

Seorang kontraktor? Kenapa harus bilang anda seorang kontraktor? tanya saya penasaran

Soalnya kalau saya bilang saya seorang sales, malulah pak, tuturnya polos

Mendengar jawaban ini saya jadi merasa miris. Karena bagaimanapun saya adalah juga seorang sales. Kenapa seseorang harus malu mengatakan kepada keluarganya, relasi dan juga kerabatnya bahwa ia seorang sales?

Dalam hati saya berkata, hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Sejak saat itu saya mengatakan kepada diri saya bahwa saya harus melakukan sesuatu agar setiap SALES  tidak lagi malu dengan profesi mereka. Sebaliknya mereka harus mempunyai kebanggaan dengan menjadi seorang SALES

Perlahan tapi pasti, lewat pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang memiliki spirit yang sama dengan saya, terakumulasi lah semangat yang lebih jelas. Boleh dikatakan, seperti magma di dalam sebuah gunung berapi, saya terbakar di dalam diri saya untuk mengeluarkan perkataan yang tegas dan berkuasa, “Saya harus bangga jadi sales”.

Kilas Balik Hidup Saya

Hati kecil saya pun berkata,“Dedy, bagaimana membangun kebanggaan dalam diri sales? Dedy, siapa lagi yang peduli tentang hal ini?”

Lalu, saya jadi teringat kepada proses perjalanan hidup saya sendiri. Lima belas tahun bekerja di bidang sales: apa dan bagaimana saya berperilaku? Apa yang saya peroleh? Bagaimana saya memperolehnya?  Di sini, saya akan menuliskan sebagian kecil dari kisah perjalanan hidup saya yang berhubungan dengan penjualan

Sejak tahun 1994 ketika lulus dari SMAN 19 , saya sudah bekerja sebagai Sales. Bahkan, waktu duduk dikelas 1 SMA pun saya sudah jualan. Seingat saya selama sekolah saya pernah jualan berbagai macam barang dari mulai jam, kaos, kartu natal, kosmetik dan berbagai produk-produk lainnya.

Setelah lulus SMA, karena orang tua tidak mampu membiayai  untuk kuliah ke perguruan tinggi, saya memutuskan untuk memulai berbisnis kecil-kecilan dengan membuka biro jasa untuk membuat SIM dan memperpanjang STNK. Kebetulan di depan rumah ada ruangan yang bisa di pakai untuk kantor kecil. Karena sering bolak – balik mengurus dan mengantar klien membuat SIM terkadang kantor kecil saya tidak ada yang menjaga. Lalu saya berinisiatif mencoba mencari assistant yang bisa bantu untuk menjaga biro jasa pada saat saya pergi, tapi tentunya dengan syarat bayarannya murah dan terjangkau.

Saya bersyukur ada seorang teman yang mengenalkan kepada saya seorang gadis cantik yang juga baru lulus SMA dan sedang menunggu kuliah dimulai, gadis cantik ini bersedia menjadi assistant sementara untuk 1 – 2 bulan.

Kemudian hari kelak, gadis cantik ini akhirnya menjadi istri dan ibu dari kedua anak saya

Singkat cerita karena satu dan lain hal akhirnya biro jasa saya tidak berlanjut dan saya melanjutkan dengan bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan distribusi oli dan pengharum mobil. Dengan mengendarai motor saya keluar masuk dari satu bengkel ke bengkel dan toko variasi mobil.

Saya ingat sekali, pada waktu itu saya membandingkan diri dengan teman saya yang lain, yang kerja kantoran dengan pakaian yang rapi. Saya lusuh dan kadang-kadang bau keringat karena baru berpanas-panasan dengan motor, sedangkan teman-teman saya yang kuliah banyak yang  bekerja kantoran di ruangan ber-AC dengan pakaian yang rapi

Dari jualan oli saya pindah ke perusahaan lain, dan karier saya dibidang sales pun terus berlanjut dari produk asuransi, barang multilevel marketing, mobil, AC, makanan ringan, bahkan jualan kacang dan kuaci ke rumah duka pun saya pernah lakoni.

Dari hasil jualan akhirnya saya bisa punya uang untuk melanjutkan studi. Waktu kuliah pun, saya jualan. Karena kami kuliah malam, kantin sudah tutup, dan teman-teman selalu mengeluh susah cari minum atau makanan. Jadi, saya kuliah bawa air minum kemasan. Saya jualan air minum buat teman-teman kuliah. Mula-mula sedikit, lama-lama jadi tambah banyak. Bahkan ada juga teman yang beli satu dus air kemasan dari saya.

Dalam refleksi pribadi saya ini, saya sadar bahwa selama menjalani profesi sales, saya menikmatinya. Saya tidak merasa masalah dengan profesi saya. Hanya saja, setiap kali ketemu teman, terkadang saya memang merasa sedikit berbeda dibandingkan dengan teman-teman saya yang jadi insinyur,arsitek, akuntan, finance, dokter dan berbagai profesi lainnya. Sempat juga timbul ada sedikit rasa minder.

Kelak saya menyadari bahwa apa yang saya alami ini juga banyak dialami oleh teman-teman sales ketika memulai perjalanan karier di bidang Sales.

Beruntungnya rasa minder saya tidak berlangsung lama karena saya menyadari biar bagaimanapun sales adalah profesi yang sangat penting bagi perusahaan dan saya bangga karena bisa menjadi orang penting di perusahaan.

Singkat cerita akhirnya pada tahun 2001 saya berlabuh pada sebuah perusahaan distribusi dan pemasaran yang termasuk papan atas di kalangan pemasok alat tulis, di perusahaan ini saya mempunyai banyak kesempatan untuk bisa mengembangkan potensi penjualan saya.

Dengan prestasi penjualan yang luar biasa secara perlahan saya mulai menapaki karier dan mendapatkan kepercayaan macam-macam hingga saya menjadi sales manager.

Kilas balik perjalanan hidup saya ini membawa saya kepada satu refleksi, selain motivasi karena ingin penghasilan lebih baik, kira-kira apalagi yang bisa saya lakukan dalam hidup saya? Apakah tujuan hidup saya hanya sekedar mencapai target penjualan dan mendapatkan insentif?

Saya mulai secara mendalam memikirkan hal ini dan saya merasakan bahwa Tuhan memberikan saya sesuatu dalam hidup yang harus saya bagikan kepada banyak orang.

Meresponi Panggilan Jiwa

Ini bermula dari suatu pernikahan salah seorang teman saya. Pada saat saya menyalami teman saya yang jadi pengantin tiba-tiba saya merasakan buku kuduk merinding saat berada di depan panggung dan melihat orang banyak yang berada di bawah panggung. Saya bilang ke isteri saya, “Kok merinding, ya. Ada setannya kali.”  Saya tahu itu bukan rasa takut, dan perkataan saya soal setan hanya guyon saja, Namun, jujur juga, saya tidak tahu itu perasaan apa, dan saya tidak pandai mengungkapkannya. Belakangan, saya merasakan hal yang sama ketika untuk pertama kalinya saya berbicara di tim penjualan klien saya. Barulah saya mengerti bahwa itu adalah gairah yang keluar dari dalam hati saya dan menimbulkan rasa nyaman. Saya menikmatinya.

Tahun 2005, saya mulai bicara kepada istri kalau saya mau jadi trainer. Karena dia seorang istri yang ahli di bidang keuangan maklum profesinya adalah akuntan, dia bertanya kepada saya, “Kalau jadi trainer ada duitnya gak?” Saya diam. Sebab saya juga tidak tahu apakah saya bisa mendapatkan penghasilan dari situ. Sedangkan dengan pekerjaan saya sebagai seorang sales manager saat itu secara keuangan saya sudah mendapatkan penghasilan yang baik.

Akhirnya, saya tetap menjalankan profesi saya sebagai sales manager, sambil tetap menjaga dan memelihara spirit tersebut dalam hati.

Namun, sekalipun tidak diminta pada mulanya, tetapi saya mengusulkan diri saya sendiri ke departemen HRO, untuk diijinkan menjadi trainer pendamping, saya bersyukur bahwa akhirnya saya diminta mengisi. Di situ saya bisa belajar sekaligus mengembangkan skill saya. Lima tahun saya memelihara spirit ini, dan minimal dua kali setiap tahun isteri saya menerima curhat saya untuk “ingin jadi trainer”. Akhirnya, tahun 2008, isteri saya mendorong saya untuk kuliah lagi. Saya menyambut baik gagasan itu dan mengambil bidang yang memang dapat digunakan untuk memperlengkapi diri agar ketika suatu saat mimpi itu terwujud, maka saya sudah memiliki predikat yang akan mendukung profesi saya nanti.

Ada hal yang menarik ketika saya mulai menjalani kesukaan saya untuk memberikan training kepada sales team di perusahaan. Suatu waktu karena tahu saya bisa membawakan training ada salah satu customer yang minta saya membawakan training untuk sales team mereka di Puncak – Jawa Barat.

Dengan senang hati saya meresponi undangan tersebut, walaupun sebenarnya customer ini bukanlah customer langsung saya. Karena saya melihat ini sebagai peluang untuk mengasah kemampuan mengajar saya mengapa tidak saya ambil.

Singkat cerita saya berangkat subuh dari Jakarta menuju puncak dan memberikan training dengan sangat memuaskan. Dan anda tahu saking bagusnya, customer saya memberikan saya bayaran 2 M.

Yah benar 2 M tapi bukan 2 Milyar, melainkan hanya ucapan: “Makasih Mas”.

Pucuk Dicinta, Ulam Tiba

Antonius Tanan salah seorang mentor saya pernah mengatakan kepada saya bahwa kita tidak pernah tahu kapan kesempatan akan datang. Untuk itu yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri dengan baik, agar ketika kesempatan itu datang kita sudah siap untuk mengambilnya.

Februari 2009, selesai meeting dengan klien di Grand Indonesia, saya memutuskan untuk tidak langsung pulang tapi pergi ke Gramedia untuk mengecek stok dan display produk saya. Pada saat saya mengecek display ternyata saya bertemu dengan kenalan lama saya namanya pak Tunggul. Tadinya dia tidak ingin bicara dia kerja di mana, tetapi akhirnya dia menunjukkan kartu nama kalau dia adalah direktur di perusahaannya Mr.James Gwee, yang merupakan seorang trainer favorit saya.

Karena saya melihat ini peluang berharga maka saya ajak pak Tunggul untuk ngopi dulu dan tak terasa kami ngobrol sampai sekitar jam 9 malam, dan bersyukur dari pembicaraan malam itu bisa mendapatkan informasi perihal kesempatan menjadi Associate Trainer. Pulang dari situ, saya merasa berbunga-bunga dan berharap semoga saya bisa diterima sebagai associate trainer di James Gwee. Dari situ, saya pun diperkenalkan kepada Mr.James Gwee, yang membawa saya kepada program seleksi dan lulus. Ternyata, persiapan dan pelatihan praktis di kantor saya selama bertahun-tahun tidak sia-sia.

Dengan kesempatan yang diberikan untuk menjadi Associate Trainer saya merasa bahwa telah tiba saatnya saya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dalam hidup saya yaitu mengikuti panggilan menjadi seorang trainer.

Hal ini membuat keyakinan akan berhenti kerja menjadi lebih kuat. Saya lalu bicara kepada atasan saya bahwa kali ini, mimpi saya sudah datang.  Atasan saya mengetahui hal ini karena saya sering menceritakan mimpi saya untuk menjadi seorang trainer. Tapi untuk sementara atasan saya belum mengijinkan saya untuk berhenti, tapi sebagai kompensasinya saya diberikan untuk bisa membawakan training dengan potong hak cuti.

Proses ini berjalan kurang lebih setahun lamanya, sampai akhirnya saya dengan keyakinan yang teguh dengan dukungan istri, keluarga khususnya kakak saya sulaiman budiman dan juga setelah bergumul minta hikmat bijaksana dari Tuhan. Saya memberanikan diri untuk meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang sales manager untuk menjadi seorang trainer efektif mulai di tahun 2010.

Saya memiliki keyakinan akan potensi dan harapan untuk sesuatu yang besar untuk dibagikan, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga untuk berbagi. Seperti apa yang dikatakan oleh Abah Rama seorang mentor saya yang mengatakan “penuhilah panggilan yang Tuhan berikan kepadamu dedy, maka Tuhan akan membukakan jalan, memperlengkapi dan memimpin hidupmu.”

Tetapi dalam perjalanan hidup terkadang segala sesuatu tidak berjalan baik seperti apa yang kita bayangkan. Pada suatu kesempatan di awal karier saya sebagai trainer saya berkesempatan untuk membawakan training di depan 200 orang. Saya berusaha untuk memberikan yang terbaik, tetapi ternyata hasilnya tidak sebaik yang saya bayangkan. Saya sempat merasa down, Baru mulai saja, kok tidak bagus. “Saya sudah berhenti kerja, nih. Bagaimana kalau nanti gagal?”

Tapi, saya dapat support yang luar biasa  dari Mr.James Gwee. Review yang diberikan memberi saya dorongan untuk memperbaiki diri, dan bukan tenggelam dalam kuatir atau frustrasi. Akhirnya saya tahu bahwa itu adalah proses.

Memutuskan berhenti dari pekerjaan yang baik memang bukan hal yang mudah. Menjadi seorang trainer kan tidak menjamin penghasilan yang tetap. Kita hanya akan dapat income kalau ada perusahaan yang mau panggil kita. Sedangkan saya adalah seorang trainer yang baru. Jadi, enam bulan pertama saya hanya mendapatkan sedikit klien. Tapi saya tetap menjalankannya, karena saya memegang keyakinan bahwa hal besar yang memang ada dalam mimpi saya itu pasti akan terwujud, cepat atau lambat.

Dan, hari ini, setelah tiga tahun menjadi trainer, saya tetap bisa jadi seorang sales. Tepatnya, sales trainer. Lewat profesi ini, saya bisa menginsipirasi puluhan ribu orang, dan yang terpenting saya bisa mengajak teman-teman sales untuk menjadi seorang sales yang bangga dengan profesinya. Mimpi ini belum berakhir, masih banyak yang harus dilakukan. Dan melalui buku ini saya mau mengajak teman-teman sales di seluruh Indonesia untuk bergandengan bukan untuk mewujudkan mimpi saya, tetapi mimpi kita bersama: membangun profesi sales sebagai pilihan terbaik. Membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan diandalkan untuk menggerakkan ekonomi pemerintah.

Mengapa kita harus bangga jadi sales Indonesia?

Di pasar global, Indonesia sering dianggap sebelah mata. Penduduk banyak tetapi prestasi tidak menonjol. Salah satu indikator pertumbuhan negara adalah pertumbuhan ekonomi yang baik yang antara lain digerakkan oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri. Pemerintah sudah menggalakkan program enrepreneur untuk melahirkan semangat wirausaha. Banyak orang meresponi ingin menjadi entreprenuer. Dan selama ini, entreprenuership bicara modal dan keahlian membuat barang atau jasa lalu memasarkannya. Menurut saya, ada yang terluput dari gaung entrepreneurship yang digemakan itu. Sebagus apa pun sebuah produk dilahirkan, sebagus apa pun konsep pemasaran dirancang, bilamana tidak ada orang yang mau bergerak menjadi penjualnya, yang membawa produk ini bisa ketemu konsumennya yang tepat, maka kewirausahaan pun akan macet.

Selain itu, kita juga melihat kenyataan, banyak entrepreneur sedikitnya pernah menjalani profesi Sales sebelum menjadi owner. Bahkan tidak sedikit CEO yang sampai hari ini juga masih praktek sebagai Sales bagi usaha yang dikelolanya. Artinya, kalau profesi Sales diangkat ke permukaan dan ditanamkan mentalitas berpikir yang benar, maka para pelaku Sales ini akan lebih bergairah lagi melakoni profesinya. Sudah waktunya bagi kita untuk meninggalkan kebiasaan sales yang berjalan sehari-hari dari scope yang sempit. Baik bagi sales itu sendiri, baik bagi para atasan ataupun pengusahanya. Sebagai ujung tombak perusahaan, sales yang bangga dengan profesinya yang terwujud dalam karakter yang baik, akan membangkitkan turbin yang lebih besar. Dampaknya akan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Kenapa harus malu jadi sales? Bagaimana orang-orang sales bisa berkontribusi? Caranya: jualan lebih banyak, jadilah sales yang baik, berperilakulah yang benar, buatlah perusahaan di mana Anda bekerja menjadi maju dan berkembang, sehingga dunia usaha maju dan industri pun maju. Kalau Anda jadi sales, jangan kesal atau takut untuk bikin pemilik perusahaan di mana Anda bekerja menjadi tambah kaya. Percayalah, kalau Anda melakukan bagian Anda memberi kontribusi itu baik dan benar, sekalipun mungkin Anda merasa tidak diperlakukan dengan adil dan wajar menurut ukuran Anda, kalau tetap pandai menjaga hati menjadi tidak panas, Anda akan menjadi orang hebat suatu ketika nanti.

Jangan biarkan orang memandang Anda sebelah mata. Jangan balas rasa tidak enak atau tidak senang Anda dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hak Anda. Yang penting jualan dalam koridor tanggung jawab Anda, lalu tunjukkan konsistensi Anda dalam nilai yang Anda usung sebagai sales. Jadikan profesi ini bercitra baik karena Anda dan saya mengakui profesi ini sebagai kebanggaan. Sebagai pilihan utama.

Ekspresikan Energi Positif Atas Tekanan Atasan

Membalas dengan cara yang positif setiap tekanan yang muncul ibarat sebuah bola tenis yang dibanting ke bawah lalu membal kembali ke atas, melambung, dan meluncur dahsyat sehingga lawan tidak bisa memukul balik, dan kita menang angka. Jualan lebih baik, tampil lebih profesional sehingga orang-orang lain bisa melihat siapa dan bagaimana Anda. Lalu, buktikan, profesi Sales memang layak dibanggakan.

Mungkin kita pernah diperlakukan tidak adil karena komisi yang seharusnya menjadi hak kita tidak dibayar sesuai janji. Terimalah itu sebagai bagian dari proses karakter. Kalau order yang kita cari dengan jerih lelah tiba-tiba diklaim sebagai bukan hak kita, lalu dipindahtangankan oleh atasan sebagai order orang lain –rekan kita sendiri—terimalah itu sebagai proses mendewasakan temperamen, dan percaya bahwa itu waktunya bagi kita untuk menerima lebih banyak lagi. Bukankah kita tahu sumbernya untuk mendapatkan pesanan? Buat apa menggerutu. Diambil satu dari kita, Tuhan akan ganti dua kali lipat.  Kita memberi atasan kita lebih dari yang diharapkan, Tuhan akan memberkati kita jauh lebih banyak dari yang kita harapkan. Atau, bisa juga terjadi, perusahaan tidak mau menanggung kerugian karena customer, dan kita diwajibkan mengganti. Bagi saya, pilihan-pilihan semacam itu adalah tantangan yang membuat kita dapat membuktikan bahwa kita adalah pribadi yang bertanggung jawab dan berkarakter. Selama kita melakukan bagian kita dengan baik dan benar, sekalipun bos tidak melihat dan tidak menanggapi sebagaimana seharusnya, Tuhan kan melihat?

Menabur & Menabur, Pasti Menuai

Ketika saya bekerja jadi sales, saya menyejahterakan diri saya. Namun, saya juga menyadari bahwa saya punya potensi lebih dari itu, bahwa saya bisa membantu menyejahterakan orang lebih banyak lagi lewat berbagi pengalaman dan ilmu saya kepada orang lain. Apalagi mereka saat ini sepertinya tidak memiliki penghidupan yang baik, padahal sesungguhnya mereka menyimpan potensi. Saya ingin mereka tahu bahwa Sales adalah profesi yang baik.

Sekarang, boleh dikatakan saya tidak memiliki team sebanyak dulu, tetapi saya telah memberi pengaruh baik kepada puluhan ribu orang. Saya percaya lewat KOMISI ( Komunitas Sales Indonesia ) yang merupakan rumah sales indonesia dan Jembatan Karier yang mempersiapkan para lulusan SLTA, Universitas dan masyarakat untuk menjadi sales maka akan ada snowball effect di dunia sales, sehingga dalam dua atau tiga tahun lagi akan ada orang yang mau jadi sales bukan karena terpaksa, atau sebagai pilihan terakhir. Dia yang tadinya malu, jadi bangga. Dia yang bangga berupaya mewujudkannya dalam karakter yang baik, dan otomatis meningkatkan omset penjualan dia sendiri. Ekonomi pun akan bergulir dengan lebih baik lewat hadirnya orang-orang sales yang berbeda.

Sebagai mana Deng Xiaoping berkata, “It doesn’t matter if a cat is black or white, so long as it catches mice”, saya juga hendak mengatakan, “Saya tidak peduli apakah Anda berkulit hitam atau putih, mata sipit atau tidak, tampang seperti apa, sekolah tinggi atau menengah, yang saya peduli adalah Apakah Anda mau menjual?  Atau, kalau Anda sudah menjadi tenaga penjual, apakah Anda malu dengan profesi Anda dan ingin berubah untuk tidak malu, agar Anda dapat menjual lebih baik lagi?”

Saya percaya, apa yang saya lakukan ini adalah hal yang kecil. Dimulai dari saya sendiri, kepada beberapa puluh orang yang sudah berpengalaman yang bergabung di dalam KOMISI atau kepada beberapa puluh orang lainnya yang pemula di Jembatan Karier, maka ketika ini terakumulasi dengan baik, saya percaya dalam dua atau tiga tahun lagi profesi sales tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sales akan menjadi profesi idaman bagi para lulusan baru. Juga bagi para orang tua. Ya, dulu saya berani percaya. Sekarang, Anda juga harus berani percaya bahwa profesi Sales adalah salah satu profesi pilihan terbaik. Mari kita teriakan bersama ke seluruh pelosok nusantara “Saya Bangga Jadi Sales Indonesia!”

Dedy Budiman M.Pd

Sumber : Buku Bangga Jadi Orang Sales Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *