SERUM: Mantan Sales Sedotan

SERUM: Rajin Berkomunikasi dengan Customer
February 15, 2017
SERUM: Tips from Above
February 22, 2017

SERUM: Mantan Sales Sedotan

Mantan “Sales” Sedotan

Bagus Susanto.. Siapa yang tidak kenal dengan beliau? Dengan Jabatan Sales and Marketing Director Ford Motor Indonesia di tahun 2014 adalah orang yang terkenal ramah.

Bagus yakin bakat menjadi sales sudah dimilikinya sejak kecil. Bermula dari kisah menjadi penjual sedotan saat duduk di kelas 3 sekolah dasar di Tanggul, Jember, kelas 1 SMP, ia memilih mengisi liburan dengan berjualan jeruk dan menjadi penyemir sepatu di Gang Dolly, kompleks pelacuran yang tak jauh dari rumahnya di Jalan Banyu Urip, Surabaya. Tak tahan berjualan di Gang Dolly karena lingkungan yang negatif, tanpa perlu malu ia beralih menjual jeruk dari rumah ke rumah. Kata Bagus “Ia mengakui keadaan ekonomi keluarganya saat itu yang mendorongnya ikut membantu memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari”.

Saat duduk di bangku SMA, Bagus tidak meninggalkan rutinitas berjualannya. Ia membantu keluarganya berjualan kain.

Niat nya yang tinggi untuk mengenyam pendidikan merupakan salah satu pemikirannya keluar dari kemelut kemiskinan. Karena itu, menjelang kelulusan SMA, Bagus mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa pendidikan kerja yang menawarkan sekolah bebas biaya bahkan mendapat uang saku.

Kesuksesan tidak datang dengan instan. Ada ”harga” yang harus dibayar untuk mendapatkannya. Ibarat pepatah Jawa “jer basuki mawa beya”, untuk mencapai keberhasilan itu butuh biaya. Bukan biaya dalam bentuk materi uang, tapi pengorbanan waktu, tenaga, usaha, dan kerja keras.

“Kalau orang mau sukses, jalan pasti ada. Perbedaannya tipis, ada orang yang berani ‘bayar’ ada yang tidak berani ‘bayar’, wis itu thok (sudah itu saja)!” ujar Bagus saat ditanya apa kunci suksesnya kepada Kompas.com.

Keberanian untuk menebus kesuksesan itu sudah tertancap di kepala Bagus sejak masa kanak-kanak. Ia mengakui, keputusan yang diambilnya sejak duduk di bangku sekolah adalah pijakan untuk keberhasilannya saat ini.

“Semua anak ditanya pasti mau pintar. Tapi berapa anak yang jadi pintar? Apa bayarannya? Jangan nonton TV terus, jangan main terus, jangan ngobrol kalau guru lagi menerangkan,” terang Bagus.

Bagus menampik anggapan bahwa fasilitas pendidikan yang berteknologi tinggi, nyaman, dan lengkap adalah kunci kemajuan.

“Orang pinter bukan karena AC (air conditioner). Ini serius saya bicara seperti ini. Bukan itu, yang penting itu TEKADNYA,” kata dia.

Sumber: Kompas

Rewrite by
Atika Citra
KOMISI JABODETABEK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *